Monday, June 9, 2014

Teknologi Bioflok untuk Lele‎

Teknologi Bioflok - Menurut Ir. Suprapto, Tim teknisi Shrimp Club Indonesia, teknologi bioflok mulanya dikembangkan dalam budidaya udang. Teknologi bioflokini membutuhkan sedikit air, melibatkan mikroba sehingga kebutuhan oksigen tinggi, dan bisa ditebar dengan kepadatan tinggi hingga 3.000 ekor/m3. Pada 2010 ia memperkenalkan teknologi bioflok ke pembudidaya lele di Pekalongan, Jateng, yang kesulitan air.

Menurut Suprapto,teknologi biofloksebenarnya kelanjutan dari teknologi probiotik, yaitu menciptakan lingkungan perairan yang nyaman bagi lele sekaligus menimbulkan flok sebagai makanan ikan. "Ketika media nyaman lalu ada kesamaan osmoregulasi air dan tekanan tubuh ikan, maka makanan yang masuk ke tubuh ikan hampir 100% digunakan untuk tumbuh," tambah Muhammad Amir Shobirin, Ketua Penelitian dan Pengembangan Forum Komunikasi Mina Pantura (FKMP), Pekalongan, Jateng.

Untuk menciptakan lingkungan yang nyaman, perlu dilakukan sterilisasi media, yaitu perendaman dengan 30 ppm kaporit selama 3 hari dan diaerasi. Tambahkan garam 3 ppt untuk meningkatkan tekanan osmoregulasi air dan menghindarkan serangan bakteri dan parasit. Lalu, masukkan probiotik sebanyak 10 cc/m3 dan diamkan selama 7 hari agar bakteri yang diinginkan mendominasi perairan.

Ketika limbah nitrogen di perairan tinggi, seimbangkan dengan rebusan molases atau tepung terigu untuk menyeimbangkan CN rasio antara 15-20. Keseimbangan CN rasio akan mencegah proses nitrifikasi sehingga terjadi pembentukan protein.

Nitrogen dari NH3 dan NH4 dimanfaatkan bakteri dan dijadikan protein sel yang melayang-layang dan menempel di substrat. Gumpalan protein inilah yang disebut bioflok. Dengan perlakuan pengurangan porsi pakan 80% daya kenyang dan puasa seminggu sekali, flok akan termakan lele. Akibatnya teknologi flok menghemat 20%-30% pakan. Pakan yang digunakan juga bisa berkadar protein rendah, di bawah 30%.

Menurut Suprapto, kesalahan yang sering dilakukan pembudidaya adalah memberikan molases berlebihan sehingga kebutuhan oksigen jadi tinggi. Akibatnya akan ada perubahan suhu yang bisa memicu ikan stres. Selain itu, teknologi bioflok mengharuskan kolam dalam kondisi tertutup, tidak terkena hujan dan sinar matahari langsung.

Tujuannya untuk mengurangi intervensi alam ke dalam kolam. Kolam yang digunakan pun tidak bisa kolam tanah, harus dialasi terpal, fiber, atau kolam semen. "Jangan langsung dasar tanah karena tanahnya ikut tersuspensi," ulas Amir.‎

0 comments:

Post a Comment

My Blog List